CAFEO ke 26, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand dari 26 – 29 November 2008 yang lalu, menyisakan satu pengalaman yang sangat mendalam bagi delegasi dari PII. Tercatat ada 21 peserta (termasuk spouse) yang dapat hadir dan 17 peserta yang terpaksa tidak dapat mencapai Bangkok karena adanya penutupan International Airport Suvarnabhumi dan Airport Don Mueang akibat demonstrasi. Walhasil, delegasi PII tidak dapat mengikuti seluruh acara, khususnya acara terakhir, yaitu Farewell party pada 28 November 2008 malam, yang merupakan penyerahan bendera CAFEO dari The Engineering Institut of Thailand (EIT) ke The Institution of Engeneers, Singapura (IES).
Hingga Jum’at pagi, 28 November 2008, tidak terdapat tanda-tanda akan dibukanya International Airport serta beredarnya berbagai rumor, yang berkaitan dengan penanganan demo serta penentuan penerbangan internasional. Rekan Heru Dewanto/Sekjen PII sebagai ketua delegasi (menggantikan rekan Airlangga Hartarto/Ketum PII, yang pulang balik karena tidak bisa mendarat pada 24 November 2008 malam) memutuskan untuk membawa seluruh rombongan delegasi PII kembali ke Indonesia dengan menggunakan transportasi darat melalui Malaysia.
Ini adalah keputusan yang akhirnya terbukti tepat. Ada informasi dan bantuan yang diberikan oleh Bp. Mohammad Hatta/Dubes RI untuk Thailand, tetapi karena belum jelas kepastiannya, maka Ketua Delegasi tetap memutuskan untuk segera kembali. Dari pilihan sarana berupa bis besar (coach), bis kecil dan mobil van dipilih untuk menggunakan bis besar. Tetapi kemudian ada tawaran dari delegasi Malaysia, yang lebih paham akses, untuk bersama-sama berangkat dan menggunakan bersama 3 bis besar yang sudah disewa oleh delegasi Malaysia yang berjumlah 58 orang dengan 18 orang delegasi PII sepakat jalan bersama pada Jumat sore.
Rekan Budi Noto/ketua hubungan & kerjasama internasional masih akan tinggal bersama spouse-nya. Karena bis besar mempunyai kapasitas 40 penumpang, 3 bis mempunyai kapasitas 120 penumpang, maka bergabunglah 6 orang dari delegasi Hongkong. Perjalanan dimulai sekitar jam 16.30-an waktu setempat, dengan dilepas oleh Ketua Penyelenggara dan bapak Woraphat Arthayukti/Ketum EIT, dari lobby hotel Sofitel Centara Grand Bangkok, Thailand.
Setelah jalan sekitar 1,5 jam, rombongan berhenti di pompa bbm dan rest room. Selanjutnya berhenti lagi sekitar jam 20.30-an waktu setempat, untuk makan malam dan belanja makanan kecil khas Thailand (oleh-oleh). Pemberhentian selanjutnya mengisi BBM sambil jajan dan rest room, setelah sekitar 3 jam perjalanan. Sebelum sampai di perbatasan Thailand – Yat Hai, 2 bis berhenti untuk rest room dan bis yang lain tidak terlihat berhenti. Sekitar jam 04.30, rombongan 3 bis sampai di Hai dan melakukan kordinasi untuk memastikan pos imigrasi yang akan dijadikan pemberhentian terakhir di Thailand.
Ada sedikit kesalah pahaman tentang waktu bis penjemput dari Malaysia yang menerima informasi bahwa rombongan akan sampai sekitar jam 10-an. Tetapi, ternyata tidak terlalu lama, setelah proses departure di imigrasi Thailand selesai, bis dari Malaysia sudah datang dan bisa dilakukan perpindahan penumpang dan bagasi. Tetapi, formasi penumpang diubah. Yang semula rombongan Malaysia dicampur dengan rombongan lain didalam satu bis, diatur untuk rombongan PII dan Hongkong berada di satu bis.
Hal ini karena tujuan PII dan Hongkong adalah KLIA (Kuala Lumpur International Airport), LCCA (Low Cost Carrier Airport) dan kota Kuala Lumpur. Pemberhentian pertama di Mmalaysia digunakan untuk makan pagi. Sekitar jam 1 siang, bis kembali berhenti untuk kesempatan belanja dan makan siang. Pemberhentian ketiga, terakhir di pada saat bis mengisi bbm. Tetapi karena diperjalanan ada hambatan, kecelakaan sebuah mobil box dan juga ada kecelekaan bis besar, maka kedatangan di KLIA sudah mendekati jam 6 petang dan sampai di LCCA mendekati jam 7 petang. Yyang terakhir, turun di kota Kuala Lumpur sekitar jam 8 petang.
Disini, 3 orang akan tinggal semalam (istirahat) dan 6 orang meneruskan perjalanan ke Singapore dengan bis, yang berangkat jam 22.30. Sekitar jam 02.30 pagi, setelah perjalanan non-stop, sampai di imigrasi Mmalaysia, untuk proses departure. Perjalanan kurang dari 10 menit kemudian, sampai di imigrasi Singapore. Selama perjalanan malam itu, sambil menikmati perjalanan yang nyaman karena infrastruktur jalan, yang dua jalur untuk setiap arah, dengan penyediaan tambahan jalur untuk putaran, rambu-rambu dan tanda-tanda lalulintas yang lengkap dan baik serta kepatuhan dalam disiplin dalam mengemudikan kendaraan di Thailand, maka sempat terpikirkan beberapa hal, dengan perbandingan di Indonesia.
Kesimpulan pertama, adalah apa yang disampaikan dalam HDR 2001 Making New Technologies Work For Human Development, pembangunan infrastruktur hingga ke pedesaan telah mengubah kondisi masyarakat Thailand menjadi lebih baik dan makmur. Banyaknya kendaraan sejenis pick-up (single maupun double cap) yang menjadi kendaraan dan dimiliki masyarakat di pedesaan/rural atau sub-urban, menjadi salah satu tanda kemakmuran.
Kedua, kelangkapan infrastruktur dipergunakan dengan mematuhi regulasi dengan disiplin yang tinggi akan tidak merugikan orang lain. Dijumpai dalam perjalanan di Thailand yang pengguna jalannya lebih disiplin dan mematuhi regulasi dibandingkan dengan Malaysia menunjukan bahwa akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Misalnya melintas di bahu jalan, di Thailand tidak ditemukan tetapi di Malaysia terjadi.Ketiga, spirit ASEAN atau AFEO masih sangat kuat dalam kerangka kerjasama antar organisasi keinsinyuran. Ddemikian sekilas catatan perjalanan kembali dari Thailand ke Indonesia. (Bambang Soesijanto/dewan penasehat PII